say no to drugs

Kamis, 26 Februari 2009

Baru Ku Mengerti

Wah pumpung da waktu ne…ngeblog dulu ah…
Sedikit mau cerita tentang diri sendiri ne…
Ternyata baru ku sadari setelah membaca blognya mas *****. MassyaAllah,betapa berdosanya aku karena telah mengagumi dan menjadikan sesama ciptaanNYA sebagai motivasiku..
Kenapa baru ku sadari sekarang, setelah banyak kekecewaan yang kudapat, memang benar kata mas *****, menjadikan seorang anak manusia sebagai motivasi justru akan mendapat banyak kekecewaan dan menjadikan kita semakin rapuh setelah orang yang menjadi motivasi kita telah dimiliki orang lain atau telah dipanggil yang menciptakanNYA. Mas ***** thanks a lot udah bukain mata hatiku, hehhehehe
Seberapa besarkah dosaku??? Ampuni aku ya Robbi…
Ternyata mengagumi sesama ciptaanNYA itu dilarang, lalu bagaimana dengan pemuda – pemudi yang menjalin hubungan lebih dr teman atau lebih sering disebut pacaran?? Kalau pacaran hanya untuk mengenal Karakter Pribadi masing – masing tanpa mengagumi satu sama lain. Bisa ga?? Ada gak ya? :-D
Bagaimana pula dengan pasangan suami istri yang hubungannya sudah di Ridhoi, apa juga di larang untuk mengagumi?
Ya Allah, Ya Robbi…ampuni dosa untuk setiap tetes air mata yang menetes karena menangisi Ciptaan-MU..,Yah mungkin ini kesalahan besar untukku…telah menjadikan dia sebagai motivasiku…yang kini malah menjadi dilemma buatku sendiri…
Buat ke depannya semoga aku menjadi lebih baik dr sekarang.
Untuk mas *** maaf jika selama ini kekagumanku malah membuat kamu merasa terganggu, buat mas ***** once again thanks banyak buat postingan blognya, gara – gara baca blog mas ***** aku jadi ngerti kesalahanku…

Lalu apa arti cinta menurut islam?
CINTA: antara Hati dan Pikiran
Oleh: Burhani Anshari*
Cinta dan perasaan adalah lautan yang sangat luas sekali, oleh karena itu orang dapat memahaminya dari sudut manapun ia suka, begitu juga dengan pacaran, karena pacaran menurut pekembangan dewasa ini juga bagian dari cinta, tapi islam punya karakter tersendiri dalam memahaminya, kalau cinta yang kita pahami adalah seperti yang digariskan oleh syariat, maka itu tidak dilarang. lantas bagaiamana perbedaan cinta kepada Allah, kepada Rasul dan kepada manusia?. berikut tahapan pemahaman cinta menurut islam:
1. Cinta pada allah memang harus dibedakan, cinta kepada Allah adalah pengorbanan, pengobanan akan terjadi jika ada kesatuan antara hati dan pikiran, cinta kepada rasul adalah mengikuti sunnahnya, sedang inti dari mengikuti adalah kepercayaan, cinta sesama manusia adalah saling menyayangi dan saling mengasihi, sedang inti dari rasa saling adalah kesamaan.
manusia diberi hati oleh Allah, hati itu adalah hak Allah, Allah akan merasa cemburu dan marah jika dihati manusia itu ada yang lain, itulah yang disebut Allah dengan syirik kepadaNya, dosa yang tentu tidak ada ampunan dari Allah.
tapi Allah juga memberi manusia pikiran, pikiran itu dianugrahkan kepada manusia, oleh karena itu sabda Rasul: "tidak sempurna iman seorang muslim kalau dia belum mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri". cinta disini adalah rasa saling menyayangi dan saling mengasihi tersebut tentunya. Jadi cinta kepada makhluq adalah memikirkannya dan atau merasakannya.
2. Punya Cita-cita suci yang ditunggu oleh setiap orang tua, boleh? mengapa tidak? malahan islam menganjurkan untuk menikah dengan terlebih dahulu berta'aruf (berkenalan), kadang kita berfikir masih terlalu dini untuk memikirkannya, tapi Allah berfirman: " hendaklah manusia itu memikirkan apa yang akan terjadi padanya besok" (faltandhur ma qaddamat lighad), besok bukan hanya hari sesudah hari ini, bulan depan, tahun depan, dan sepuluh tahun yang akan datang juga besok kan?.
Mengutip tulisan menurut seorang mufti besar Islam kontemporer Yusuf Qardhawi, dalam al fatawa jilid satu hal 625 edisi indonesia:
ia mengatakan: "sesungguhnya cinta mempunyai permulaan yang dapat dikuasai oleh yang mukallaf. Memandang, bercakap-cakap, menyampaikan salam, saling berkunjung, berkirim-kiriman surat dan bertemu, semuanya merupakan hal-hal yang berada dalam kemampuan seseorang untuk melakukan atau meninggalkannya, semua itu merupakan muaqaddimah atau permulaan rasa cinta".
3. Menjaga batasan syari'at. kalau ta'aruf dibiarkan begitu saja, tanpa terpisahnya antara hawa nafsunya dari kemauan buruknya, TANPA dan TIDAK dikendalikan oleh taqwa, maka ia akan mengalami pemerosotan aqidah, karena dalam hal cinta akan sangat mudah dipengaruhi oleh pikiran-pikiran setan yang tetap sedia menanti kesempatan lengah dari pelaku cinta ini, maka harus sangat hati-hati, karena kalau tidak maka ia akan makin berkubang dalam penyimpangannya dan tenggelam dalam urusannya, sehingga melupakan hak Allah sebagai pencipta cinta ini.
ketika nafsu sudah makin bertaut sedemikian hingga dengan perasaan dan sebagainya, maka akan sulit untuk meninggalkannya, dan apabila dia sudah berada dalam kondisi yang dia tidak sanggup lagi mengendalikannya, maka dia sendirilah yang membawa dirinya dalam posisi yang sulit, hingga tak mampu lagi untuk keluar dengan bersih lagi. adalah sangat wajar kalau mayoritas ulama mengharamkan cinta kepada yang tidak haq, karena begitu berat dan besarnya tanggung jawab yang dipikul, kesudahan yang mengerikan sekaligus menakutkan. sehingga bukan kebahagiaan yang kita akan dapatkan malahan penderitaan yang berkepanjangan.
namun tantangan zaman memang demikian beratnya, sehingga seorang muslim dituntut untuk lebih memperkuat ketahanan ruhiyah dan lebih memperkaya khazanah keilmuannya, serta pengetahuannya terhadap hakikat keislaman.
Begitu rasionalnya Islam mengatur, adalah untuk menjaga hak dan kewajiban masing-masing manusia, karena setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama, yang membedakan disisi Allah adalah kadar keimanan dan ketaqwaan manusia itu kepada Allah SWT. Maka apakah yang kita ragukan?

Copy paste from: http://id.wikipedia.org/wiki/Pembicaraan:Cinta


Wah pumpung da waktu ne…ngeblog dulu ah…
Sedikit mau cerita tentang diri sendiri ne…
Ternyata baru ku sadari setelah membaca blognya mas *****. MassyaAllah,betapa berdosanya aku karena telah mengagumi dan menjadikan sesama ciptaanNYA sebagai motivasiku..
Kenapa baru ku sadari sekarang, setelah banyak kekecewaan yang kudapat, memang benar kata mas *****, menjadikan seorang anak manusia sebagai motivasi justru akan mendapat banyak kekecewaan dan menjadikan kita semakin rapuh setelah orang yang menjadi motivasi kita telah dimiliki orang lain atau telah dipanggil yang menciptakanNYA. Mas ***** thanks a lot udah bukain mata hatiku, hehhehehe
Seberapa besarkah dosaku??? Ampuni aku ya Robbi…
Ternyata mengagumi sesama ciptaanNYA itu dilarang, lalu bagaimana dengan pemuda – pemudi yang menjalin hubungan lebih dr teman atau lebih sering disebut pacaran?? Kalau pacaran hanya untuk mengenal Karakter Pribadi masing – masing tanpa mengagumi satu sama lain. Bisa ga?? Ada gak ya? :-D
Bagaimana pula dengan pasangan suami istri yang hubungannya sudah di Ridhoi, apa juga di larang untuk mengagumi?
Ya Allah, Ya Robbi…ampuni dosa untuk setiap tetes air mata yang menetes karena menangisi Ciptaan-MU..,Yah mungkin ini kesalahan besar untukku…telah menjadikan dia sebagai motivasiku…yang kini malah menjadi dilemma buatku sendiri…
Buat ke depannya semoga aku menjadi lebih baik dr sekarang.
Untuk mas *** maaf jika selama ini kekagumanku malah membuat kamu merasa terganggu, buat mas ***** once again thanks banyak buat postingan blognya, gara – gara baca blog mas ***** aku jadi ngerti kesalahanku…

Lalu apa arti cinta menurut islam?
CINTA: antara Hati dan Pikiran
Oleh: Burhani Anshari*
Cinta dan perasaan adalah lautan yang sangat luas sekali, oleh karena itu orang dapat memahaminya dari sudut manapun ia suka, begitu juga dengan pacaran, karena pacaran menurut pekembangan dewasa ini juga bagian dari cinta, tapi islam punya karakter tersendiri dalam memahaminya, kalau cinta yang kita pahami adalah seperti yang digariskan oleh syariat, maka itu tidak dilarang. lantas bagaiamana perbedaan cinta kepada Allah, kepada Rasul dan kepada manusia?. berikut tahapan pemahaman cinta menurut islam:
1. Cinta pada allah memang harus dibedakan, cinta kepada Allah adalah pengorbanan, pengobanan akan terjadi jika ada kesatuan antara hati dan pikiran, cinta kepada rasul adalah mengikuti sunnahnya, sedang inti dari mengikuti adalah kepercayaan, cinta sesama manusia adalah saling menyayangi dan saling mengasihi, sedang inti dari rasa saling adalah kesamaan.
manusia diberi hati oleh Allah, hati itu adalah hak Allah, Allah akan merasa cemburu dan marah jika dihati manusia itu ada yang lain, itulah yang disebut Allah dengan syirik kepadaNya, dosa yang tentu tidak ada ampunan dari Allah.
tapi Allah juga memberi manusia pikiran, pikiran itu dianugrahkan kepada manusia, oleh karena itu sabda Rasul: "tidak sempurna iman seorang muslim kalau dia belum mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri". cinta disini adalah rasa saling menyayangi dan saling mengasihi tersebut tentunya. Jadi cinta kepada makhluq adalah memikirkannya dan atau merasakannya.
2. Punya Cita-cita suci yang ditunggu oleh setiap orang tua, boleh? mengapa tidak? malahan islam menganjurkan untuk menikah dengan terlebih dahulu berta'aruf (berkenalan), kadang kita berfikir masih terlalu dini untuk memikirkannya, tapi Allah berfirman: " hendaklah manusia itu memikirkan apa yang akan terjadi padanya besok" (faltandhur ma qaddamat lighad), besok bukan hanya hari sesudah hari ini, bulan depan, tahun depan, dan sepuluh tahun yang akan datang juga besok kan?.
Mengutip tulisan menurut seorang mufti besar Islam kontemporer Yusuf Qardhawi, dalam al fatawa jilid satu hal 625 edisi indonesia:
ia mengatakan: "sesungguhnya cinta mempunyai permulaan yang dapat dikuasai oleh yang mukallaf. Memandang, bercakap-cakap, menyampaikan salam, saling berkunjung, berkirim-kiriman surat dan bertemu, semuanya merupakan hal-hal yang berada dalam kemampuan seseorang untuk melakukan atau meninggalkannya, semua itu merupakan muaqaddimah atau permulaan rasa cinta".
3. Menjaga batasan syari'at. kalau ta'aruf dibiarkan begitu saja, tanpa terpisahnya antara hawa nafsunya dari kemauan buruknya, TANPA dan TIDAK dikendalikan oleh taqwa, maka ia akan mengalami pemerosotan aqidah, karena dalam hal cinta akan sangat mudah dipengaruhi oleh pikiran-pikiran setan yang tetap sedia menanti kesempatan lengah dari pelaku cinta ini, maka harus sangat hati-hati, karena kalau tidak maka ia akan makin berkubang dalam penyimpangannya dan tenggelam dalam urusannya, sehingga melupakan hak Allah sebagai pencipta cinta ini.
ketika nafsu sudah makin bertaut sedemikian hingga dengan perasaan dan sebagainya, maka akan sulit untuk meninggalkannya, dan apabila dia sudah berada dalam kondisi yang dia tidak sanggup lagi mengendalikannya, maka dia sendirilah yang membawa dirinya dalam posisi yang sulit, hingga tak mampu lagi untuk keluar dengan bersih lagi. adalah sangat wajar kalau mayoritas ulama mengharamkan cinta kepada yang tidak haq, karena begitu berat dan besarnya tanggung jawab yang dipikul, kesudahan yang mengerikan sekaligus menakutkan. sehingga bukan kebahagiaan yang kita akan dapatkan malahan penderitaan yang berkepanjangan.
namun tantangan zaman memang demikian beratnya, sehingga seorang muslim dituntut untuk lebih memperkuat ketahanan ruhiyah dan lebih memperkaya khazanah keilmuannya, serta pengetahuannya terhadap hakikat keislaman.
Begitu rasionalnya Islam mengatur, adalah untuk menjaga hak dan kewajiban masing-masing manusia, karena setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama, yang membedakan disisi Allah adalah kadar keimanan dan ketaqwaan manusia itu kepada Allah SWT. Maka apakah yang kita ragukan?

Copy paste from: http://id.wikipedia.org/wiki/Pembicaraan:Cinta


0 komentar: